Sebagai salah satu bentuk alat elektronik, televisi adalah yang memiliki paling banyak sahabat saya kira. Hampir semua rumah memiliki televisi, dan dalam sehari, banyak orang menghabiskan beberapa jam waktunya berada di depan televisi, menonton berbagai ragam program yang ditayangkannnya. Hiburan, itulah yang mereka cari.

Meski demikian, televisi, selain memberikan hiburan, juga secara tidak langsung memberikan pendidikan dan wawasan. Melalui program-program yang ditayangkan — meski tidak semua — pengetahuan dan wawasan kita bertambah. Salah satunya adalah wawasan berbahasa. Disadari atau tidak, kita mendapat pembelajaran bahasa dari para insan yang muncul di layar televisi; kita meniru cara dan gaya berbahasa mereka. Nah, karena itu, insan pertelevisian seharusnya memiliki kewajiban untuk memberikan suatu teladan berbahasa yang benar. Sehingga, orang-orang yang menonton mereka benar-benar mendapatkan sebuah pembelajaran bahasa yang tepat.

Dalam sebuah program acara bincang-bincang, yang ditayangkan setiap hari Senin hingga Jumat malam oleh salah satu stasiun televisi bergengsi, jika Anda memerhatikan, pembaca acaranya selalu saja mengatakan kata “tapi” dalam konteks yang tidak tepat.

Untuk mengawali jeda iklan pada jam tayang acaranya, pada umumnya ia selalu berkata: “Luar biasa sekali tamu-tamu kita malam hari ini, tapi jangan ke mana-mana, kita akan kembali lagi nanti dalam (nama programnya)” atau “Masih banyak tamu luar biasa yang nanti akan hadir, tapi jangan ke mana-mana, tetap di (program televisi).”

Coba perhatikan kata “tapi” dalam konteks-konteks kalimat seperti itu. Bukankah penggunaannya tidak tepat?

Konjungsi “tapi” digunakan untuk menyatakan pertentangan/perlawanan. Misalnya, “Ibu menyuruh Andi mencuci baju, tapi ia tidak mau.” Kata “tapi” terkadang dapat diganti dengan kata “namun” atau “akan tetapi”. Untuk kasus pernyataan Tukul, seharusnya ia menggunakan konjungsi “jadi”. Kata “jadi” digunakan untuk menyatakan makna “syarat” yang biasanya diungkapkan pada kalimat sebelumya. Maka, seharusnya yang dikatakan Tukul adalah: “Luar biasa sekali tamu-tamu kita malam hari ini, jadi jangan ke mana-mana, kita akan kembali lagi nanti dalam (nama programnya).” Syaratnya adalah “tamu-tamu yang luar biasa”.

Dalam salah satu filmnya, Spiderman pernah mengatakan, “Di balik kekuatan yang besar, tersimpan tanggung jawab yang besar.” Ungkapan ini benar, tak terkecuali untuk para insan televisi yang figurnya senantiasa muncul di layar televisi jutaan rumah. Mereka memiliki pengaruh yang besar bagi masyarakat, karena itu mereka juga memiliki tanggung jawab yang besar. Tidak hanya menjadi penghibur, namun juga pendidik; menjadi teladan yang baik, tidak hanya dalam sikap dan perbuatan, tapi juga dalam hal wawasan dan pengetahuan, dan salah satunya adalah pengetahuan berbahasa. Kasus di atas hanyalah salah satu contoh, yang semoga dapat menjadi pembelajaran agar menjadi lebih baik pada masa mendatang; agar para insan televisi lebih bertanggung jawab dalam berbahasa dan agar masyarakat awam lebih kritis dalam menilai teladan mereka.

Comments No Comments »

Ada kalanya orang tidak mendapat pelajaran apa-apa saat mengikuti seminar karena wira-wiri (atau riwa-riwi?), tapi bukan berarti ia tidak terbiasa untuk belajar membagi perhatiannya.

Ada kalanya seseorang memarahi orang yang berbuat kesalahan, tapi bukan berarti ia tidak mengasihinya.

Ada kalanya seseorang bermain basket dengan buruk, tapi bukan berarti ia tidak bisa basket.

Ada kalanya seseorang tidak bisa menemani kekasih pergi ke dokter, tapi bukan berarti ia tidak menyayanginya.

Ada kalanya seseorang tidak menemukan ide untuk dapat dikembangkan menjadi sebuah tulisan, tapi bukan berarti ia bukan seorang penulis.

Ada kalanya sebuah pintu tidak bisa dibuka karena rusak, tapi tetap saja itu namanya pintu.

Ada kalanya anjing tidak menggonggong, tapi tetap saja dia adalah anjing.

Ada kalanya orang terlambat, tapi bukan berarti ia bukan tipe orang yang tepat waktu.

Ada kalanya televisi hanya dapat mengeluarkan suara karena rusak, tapi tetap saja itu tidak bisa disebut radio.

Ada kalanya jarum jam berhenti berdetak, tapi tetap saja itu jam, meski mungkin dimodifikasi dengan kata “rusak”.

Ada kalanya ….

Intinya adalah orang itu cenderung melakukan apa yang disebut generalisasi: membentuk gagasan atau simpulan umum dari suatu kejadian atau hal. Garis bawahi, tebalkan, dan cetak miring kata “suatu” di situ.

Comments No Comments »

Penggunaan bahasa asing yang melebihi kadar penggunaaan bahasa ibu, oleh beberapa pihak, disebut-sebut sebagai penghambat majunya suatu bangsa. Lihat saja India dan Filipina. Dua negara tersebut lebih banyak menggunakan bahasa Inggris daripada bahasa ibu mereka sebagai bahasa sehari-hari. Hasilnya, kedua negara tersebut tidak maju. Sebaliknya, Jepang, yang lebih banyak menggunakan bahasa ibu mereka daripada bahasa asing, adalah negara yang maju. Namun tunggu dulu, bagaimana dengan Singapura dan Hong Kong? Kedua negara ini lebih banyak memakai bahasa Inggris daripada bahasa ibu mereka, tapi toh kedua negara tersebut maju dalam hal teknologinya.

Nah, benarkah pembatasan penggunaan bahasa asing dalam suatu negara itu dapat menjadikan suatu bangsa maju, khususnya dalam hal teknologi?
Jika benar, maka sistem pendidikan Indonesia yang kini banyak memasukkan unsur bahasa Inggris di dalamnya, sedang menuju arah yang salah dong?

Jawabnya tidak, masuknya bahasa Inggris dalam sistem pendidikan bahasa Indonesia justru perlahan akan membuat negara ini maju. Asal disikapi dengan tepat dan seimbang takaran pemakaiannya dengan bahasa Indonesia. Bahasa Inggris tidak boleh terlalu didewakan. Pendewaan bahasa Inggris yang terlalu berlebihan, yang berujung pada semakin berkurangnya penggunaan bahasa Indonesia, secara perlahan akan melenyapkan keberadaan bahasa Indonesia. Pun bahasa Indonesia. Pengagungan bahasa Indonesia yang terlalu berlebihan, yang berujung pada kecaman terhadap masuknya bahasa Inggris dalam sistem pendidikan, justru akan membuat negara ini terhambat.

Harus diakui bahwa dalam hal teknologi, kita jauh tertinggal dari negara-negara yang banyak memakai bahasa Inggris. Untuk memulai suatu terobosan teknologi sendiri, sepertinya masih sulit. Mau tidak mau, kita harus belajar dari negara-negara maju. Nah, penguasaan bahasa Inggris adalah langkah awal proses pembelajaran tersebut.

Bagaimana kita menggunakan bahasa Inggris untuk kemajuan suatu bangsa, itulah yang terpenting. Alangkah baiknya jika masuknya bahasa Inggris dalam sistem pendidikan, dapat kita pandang secara positif. Sambil kecintaan terhadap bahasa Indonesia terus ditumbuhkan, anak-anak bangsa juga didorong untuk mempelajari bahasa Inggris. Tidak hanya untuk kepentingan masa depan mereka sendiri dalam menghadapi era globalisasi, namun juga untuk kepentingan bangsa — menggunakan bahasa Inggris untuk berinteraksi dengan pihak-pihak penutur bahasa Inggris yang notabene dalam hal teknologi lebih maju, menimba ilmu dari mereka, serta kemudian menerapkan dan bahkan mengembangkan ilmu tersebut demi kemajuan negeri tercinta.

Jepang pun juga belajar dari negara-negara Barat pada saat ingin maju. Dan untuk belajar itu, tidak mungkin bukan kalau mereka menggunakan bahasa ibu mereka? Barulah setelah mereka maju, mereka lebih banyak menggunakan bahasa ibu mereka sendiri.

Comments No Comments »