Author Archive

Anda pasti pernah mendengar nama Billy Graham, seorang penginjil besar asal Amerika. Namun, pernahkah Anda mendengar nama Chuck Templeton dan Bron Clifford? Mungkin sebagian dari Anda pernah mendengarnya, tapi saya yakin banyak yang belum pernah mendengar kedua nama tersebut.

Tahukah Anda bahwa Chuck Templeton dan Bron Clifford juga adalah seorang penginjil besar. Mereka berdua, sama seperti Billy Graham, tampil sebagai bintang dalam dunia penginjilan pada usia 20-an tahun. Templeton, yang adalah sahabat karib Billy Graham, didaulat sebagai pengkhotbah paling bertalenta di Amerika. Bahkan, ia diperkirakan akan menjadi lebih hebat daripada Billy Graham saat itu. Bron Clifford apalagi. Orang antre berjam-jam untuk mendengar ia berkhotbah. Ia memecahkan rekor hadirin terbanyak dalam suatu khotbah dalam sejarah Amerika. Bahkan, karena fisiknya yang gagah dan ganteng, Hollywood pun memintanya menjadi bintang utama film terkenal, The Rope.

Namun, mengapa kita tidak mengenal mereka seperti kita mengenal Billy Graham? Jawabannya adalah kesetiaan. Kesetiaan untuk mengawali sesuatu dengan baik dan mengerjakannya sampai akhir.

Templeton, sebelum tahun 1950, telah meninggalkan pelayanan dan terjun dalam dunia penyiaran. Bahkan, ia menjadi ateis. Clifford tidak jauh beda. Sebelum tahun 1954, ia kehilangan keluarga, pelayanan, dan kesehatannya. Ia meninggal pada usia 35 tahun karena sirosis hati akibat kecanduan alkohol. Ia mati tanpa ada yang menangisi dan penghormatan.

Templeton dan Clifford memang memulai pelayanan mereka dengan baik. Namun, mereka tidak mengerjakan pelayanan mereka dengan setia. Mereka tersandung, jatuh, dan tidak mampu bangkit lagi. Kiranya pengalaman hidup mereka bertiga dapat menjadi pelajaran bagi kita semua. Billy Graham dihargai karena ia setia dengan apa yang ia kerjakan. Ia kuat dalam Tuhan. Apapun yang Anda kerjakan sekarang, setialah mengerjakannya. Mohonlah senantiasa pertolongan dan kekuatan dari Tuhan sehingga kita dapat mengatasi masalah imoralitas, patah semangat, dan hal-hal yang merusak yang ada di dunia ini. Saat Anda setia dengan apa yang Tuhan telah tetapkan bagi Anda untuk Anda kerjakan, Ia akan mengangkat Anda ke tempat tinggi.

*) Dimuat di Renungan Harian Spirit Motivator edisi Oktober

Comments 2 Comments »

Sebagian besar dari kita pasti pernah melihat rambu-rambu jalan yang biasanya dipasang di tiang lampu lalu lintas: “Belok kiri jalan terus” dan “Belok kanan ikuti lampu”.

Rambu yang kedua tidak mengundang banyak cibiran. Namun, rambu yang pertama (Belok kiri jalan terus), mendapatkan beberapa cibiran. Cibiran-cibiran tersebut berasal dari orang-orang di sekitar saya. Dengan susunan kata yang berbeda, pada umumnya mereka mengatakan, “Rambu-rambu ini koq aneh ya … mau belok koq malah disuruh jalan terus?!”

Benarkah rambu-rambu tersebut salah? Saya rasa tidak. Apa yang dikatakan rambu-rambu tersebut sudah benar adanya. Persepsi merekalah — yang mungkin mewakili masyarakat banyak — yang salah. Kebanyakan orang tenggelam dalam persepsi yang memandang bahwa makna kata “terus” berarti “berjalan lurus, tanpa berbelok”.

Coba saja menanyakan sebuah alamat atau tempat kepada seseorang. Biasanya mereka akan menjawab, misalnya, “setelah perempatan belok kanan, kemudian terus saja”. Maksud mereka adalah “lurus saja”, tapi mereka menggunakan kata “terus saja”. Inilah masalahnya, kata “terus” sering kali menggantikan (atau mungkin memimjam) makna yang dimiliki oleh kata “lurus”.

“Terus”, menurut KBBI Online, memiliki dua makna. Yang pertama, kata “terus” berarti, di antaranya, “langsung kepada”, “lantas”, dan “tetap berlanjut”. Sedang yang kedua, kata “terus” juga bisa berarti “murni”. Makna yang pertamalah yang sering kali tertukar dengan kata “lurus”.

Coba bandingkan makna kata “terus” itu dengan makna “lurus”. Masih menurut KBBI Online, “lurus” berarti “memanjang hanya dalam satu arah, tanpa belokan atau lengkungan (tentang garis, jalan, dsb.)”.

Dari definisi itu sudah jelas tersirat. Kata “terus” berarti tidak berhenti — entah itu harus berbelok atau tidak. Sedang kata “lurus” berarti sama sekali tidak berbelok. Jika Anda sedang berkendara, dan Anda kemudian melakukan belokan, itu berarti Anda sedang berjalan terus. Namun, jika Anda sedang berkendara dan Anda tidak berbelok, itu berarti Anda sedang berjalan lurus.

Karena itu, rambu bertuliskan “Belok kiri jalan terus” sudah benar adanya. Kata-kata pada rambu itu “terkesan” salah karena selama ini kita memiliki anggapan bahwa kata “terus” berarti lurus dan tidak berbelok. Padahal, sebenarnya tidak seperti itu.

Comments 3 Comments »

Momen kebersamaan sudah diraih. Terwujud dalam puluhan jepret foto dengan latar alam Tawangmangu. Dan tentu saja, yang tidak kalah pentingnya, terekam dalam memori masing-masing yang kelak akan (atau sudah?) menjadi kenangan yang terus tertanam dan diceritakan hingga nanti lalu dari dunia. Haha, serius amat …:p Anyway, gathering di Tawangmangu tanggal 12-13 September sudah berlalu :> Capek memang, tapi rasanya senang dan puas (ngga tahu yang lain gimana :p)

Sabtu, 12 September 2009, berkumpul di rumah Yusuf; Yusuf sendiri, Christian Teamboel, Iwan Tedjo, Jeffry Teko, dan aku mulai berangkat menuju Tawangmangu (TW) pada sekitar pukul 1 siang (padahal rencana awal pukul 12 siang :p, molor …). Sementara Jodiet akan mulai “naik” ke TW pukul 4 sore dari Solo, sendiri. Rencananya, kami akan bersih-bersih vila dahulu sesampainya di sana. Vila milik kerabat Iwan itu katanya sudah lama tidak dipakai.

Dalam perjalanan, kami sempat berhenti sebentar di Alfamart (atau Indomaret ya? lupa …) untuk membeli 2 kardus minuman ringan gelas yang akan dibawa Andi Kebo saat ia menyusul ke TW sekitar pukul 10-11 malamnya, naik mobil bersama dengan seorang temannya. Di Alfamart, kami sempat ketemu Rusi dan sedikit berbasa-basi.

Setelah mampir nitip minuman ringan di rumah Andi, kami sempat berhenti di sebuah pom bensin sekali, dan sekali lagi, di Alfamart (atau Indomaret ya? lupa … :p) untuk membeli 3 botol besar minuman ringan, yang akan menjadi satu-satunya sumber air minum di vila hingga Andi datang membawa 2 kardus minuman ringan yang dititipkan tadi.

Sekitar pukul 2 siang, kami sudah tiba di vila yang menjadi tujuan. Aku sendiri cukup kaget dengan villanya. Jauh dari bayanganku sebelumnya, ternyata villanya luas. “Sayang, yang ikut gathering tidak banyak,” pikirku. Tanah yang tidak dipakai untuk bangunan rumah lebih luas daripada bangunan rumahnya. Saat masuk gerbang vila, nampak di sisi kanan sebuah lahan strawberry yang Iwan dan Yusuf sebut farmville (mereka berdua memang gila farmville). Setelah lahan strawberry, hamparan rumput jepang rimbun seluas kira-kira 5 kali 4 meter terbentang. Di atasnya, berdiri kokoh dua jenis ayunan, enak sekali dipakai untuk bersantai sambil ngobrol dengan mata sejuk memandang pepohonan gunung yang nampak menyentuh awan. Berhadapan dengan rerumputan tadi adalah setengah lapangan basket, dengan ring yang masih kuat dan bagus. Sedang bangunan rumah berada tepat setelah rerumputan itu. Pintu masuk utamanya di samping, berhadapan dengan garasi yang letaknya ada setelah setengah lapangan basket. Di dalam garasi itu, ada sebuah ruang, tempat tinggal si mas penjaga vila.

Kunci masuk ke tempatnya — lubang kunci pintu. Setelah berusaha selama beberapa waktu, pintu vila pun terbuka …

(Bersambung)

Comments No Comments »