Momen kebersamaan sudah diraih. Terwujud dalam puluhan jepret foto dengan latar alam Tawangmangu. Dan tentu saja, yang tidak kalah pentingnya, terekam dalam memori masing-masing yang kelak akan (atau sudah?) menjadi kenangan yang terus tertanam dan diceritakan hingga nanti lalu dari dunia. Haha, serius amat …:p Anyway, gathering di Tawangmangu tanggal 12-13 September sudah berlalu :> Capek memang, tapi rasanya senang dan puas (ngga tahu yang lain gimana :p)

Sabtu, 12 September 2009, berkumpul di rumah Yusuf; Yusuf sendiri, Christian Teamboel, Iwan Tedjo, Jeffry Teko, dan aku mulai berangkat menuju Tawangmangu (TW) pada sekitar pukul 1 siang (padahal rencana awal pukul 12 siang :p, molor …). Sementara Jodiet akan mulai “naik” ke TW pukul 4 sore dari Solo, sendiri. Rencananya, kami akan bersih-bersih vila dahulu sesampainya di sana. Vila milik kerabat Iwan itu katanya sudah lama tidak dipakai.

Dalam perjalanan, kami sempat berhenti sebentar di Alfamart (atau Indomaret ya? lupa …) untuk membeli 2 kardus minuman ringan gelas yang akan dibawa Andi Kebo saat ia menyusul ke TW sekitar pukul 10-11 malamnya, naik mobil bersama dengan seorang temannya. Di Alfamart, kami sempat ketemu Rusi dan sedikit berbasa-basi.

Setelah mampir nitip minuman ringan di rumah Andi, kami sempat berhenti di sebuah pom bensin sekali, dan sekali lagi, di Alfamart (atau Indomaret ya? lupa … :p) untuk membeli 3 botol besar minuman ringan, yang akan menjadi satu-satunya sumber air minum di vila hingga Andi datang membawa 2 kardus minuman ringan yang dititipkan tadi.

Sekitar pukul 2 siang, kami sudah tiba di vila yang menjadi tujuan. Aku sendiri cukup kaget dengan villanya. Jauh dari bayanganku sebelumnya, ternyata villanya luas. “Sayang, yang ikut gathering tidak banyak,” pikirku. Tanah yang tidak dipakai untuk bangunan rumah lebih luas daripada bangunan rumahnya. Saat masuk gerbang vila, nampak di sisi kanan sebuah lahan strawberry yang Iwan dan Yusuf sebut farmville (mereka berdua memang gila farmville). Setelah lahan strawberry, hamparan rumput jepang rimbun seluas kira-kira 5 kali 4 meter terbentang. Di atasnya, berdiri kokoh dua jenis ayunan, enak sekali dipakai untuk bersantai sambil ngobrol dengan mata sejuk memandang pepohonan gunung yang nampak menyentuh awan. Berhadapan dengan rerumputan tadi adalah setengah lapangan basket, dengan ring yang masih kuat dan bagus. Sedang bangunan rumah berada tepat setelah rerumputan itu. Pintu masuk utamanya di samping, berhadapan dengan garasi yang letaknya ada setelah setengah lapangan basket. Di dalam garasi itu, ada sebuah ruang, tempat tinggal si mas penjaga vila.

Kunci masuk ke tempatnya — lubang kunci pintu. Setelah berusaha selama beberapa waktu, pintu vila pun terbuka …

(Bersambung)

Leave a Reply