Tukul Bilang “Tapi”, Seharusnya “Jadi”
Posted by: dianpra in Bahasa, tags: Bahasa, jadi, tapi, televisi, TukulSebagai salah satu bentuk alat elektronik, televisi adalah yang memiliki paling banyak sahabat saya kira. Hampir semua rumah memiliki televisi, dan dalam sehari, banyak orang menghabiskan beberapa jam waktunya berada di depan televisi, menonton berbagai ragam program yang ditayangkannnya. Hiburan, itulah yang mereka cari.
Meski demikian, televisi, selain memberikan hiburan, juga secara tidak langsung memberikan pendidikan dan wawasan. Melalui program-program yang ditayangkan — meski tidak semua — pengetahuan dan wawasan kita bertambah. Salah satunya adalah wawasan berbahasa. Disadari atau tidak, kita mendapat pembelajaran bahasa dari para insan yang muncul di layar televisi; kita meniru cara dan gaya berbahasa mereka. Nah, karena itu, insan pertelevisian seharusnya memiliki kewajiban untuk memberikan suatu teladan berbahasa yang benar. Sehingga, orang-orang yang menonton mereka benar-benar mendapatkan sebuah pembelajaran bahasa yang tepat.
Dalam sebuah program acara bincang-bincang, yang ditayangkan setiap hari Senin hingga Jumat malam oleh salah satu stasiun televisi bergengsi, jika Anda memerhatikan, pembaca acaranya selalu saja mengatakan kata “tapi” dalam konteks yang tidak tepat.
Untuk mengawali jeda iklan pada jam tayang acaranya, pada umumnya ia selalu berkata: “Luar biasa sekali tamu-tamu kita malam hari ini, tapi jangan ke mana-mana, kita akan kembali lagi nanti dalam (nama programnya)” atau “Masih banyak tamu luar biasa yang nanti akan hadir, tapi jangan ke mana-mana, tetap di (program televisi).”
Coba perhatikan kata “tapi” dalam konteks-konteks kalimat seperti itu. Bukankah penggunaannya tidak tepat?
Konjungsi “tapi” digunakan untuk menyatakan pertentangan/perlawanan. Misalnya, “Ibu menyuruh Andi mencuci baju, tapi ia tidak mau.” Kata “tapi” terkadang dapat diganti dengan kata “namun” atau “akan tetapi”. Untuk kasus pernyataan Tukul, seharusnya ia menggunakan konjungsi “jadi”. Kata “jadi” digunakan untuk menyatakan makna “syarat” yang biasanya diungkapkan pada kalimat sebelumya. Maka, seharusnya yang dikatakan Tukul adalah: “Luar biasa sekali tamu-tamu kita malam hari ini, jadi jangan ke mana-mana, kita akan kembali lagi nanti dalam (nama programnya).” Syaratnya adalah “tamu-tamu yang luar biasa”.
Dalam salah satu filmnya, Spiderman pernah mengatakan, “Di balik kekuatan yang besar, tersimpan tanggung jawab yang besar.” Ungkapan ini benar, tak terkecuali untuk para insan televisi yang figurnya senantiasa muncul di layar televisi jutaan rumah. Mereka memiliki pengaruh yang besar bagi masyarakat, karena itu mereka juga memiliki tanggung jawab yang besar. Tidak hanya menjadi penghibur, namun juga pendidik; menjadi teladan yang baik, tidak hanya dalam sikap dan perbuatan, tapi juga dalam hal wawasan dan pengetahuan, dan salah satunya adalah pengetahuan berbahasa. Kasus di atas hanyalah salah satu contoh, yang semoga dapat menjadi pembelajaran agar menjadi lebih baik pada masa mendatang; agar para insan televisi lebih bertanggung jawab dalam berbahasa dan agar masyarakat awam lebih kritis dalam menilai teladan mereka.


Entries (RSS)