Gerbong 3 KA Senja Utama
Posted by: dianpra in Asam Manis Hidup, tags: jakarta, kereta api, perjalananJumat, 13 Februari 2009, 18.30 WIB. Akhirnya duduk juga aku di kursi jendela nomor 7A gerbong 3 kereta api Senja Utama jurusan Jakarta. Meninggalkan kota Solo terasa begitu berat di hati, meski aku tahu aku hanya pergi beberapa hari. Tidak pernah aku pergi jauh sebelum perjalanan yang satu ini. Ya, mungkin itu agak berlebihan. Aku pernah pergi ke tempat yang, ya …, setidaknya lebih jauh dari Jakarta. Cuma itu sudah lama sekali, sekitar 7 atau 8 tahun yang lalu, yakni saat aku pergi ke Bali. Mungkin karena sudah lama, perjalanan yang jauh ini (bagiku) seakan-akan menjadi perjalanan jauh yang pertama dalam hidupku.
Antaran kekasih dan mama-lah yang membuatku terasa berat meninggalkan Solo. Rasa peduli mereka, raut wajah mereka saat mengantarku ke stasiun Balapan Solo, membuatku sadar bahwa selama ini banyak orang yang kusayang, dan sebaliknya menyayangiku dan peduli terhadapku. Mereka berdua buktinya. Lambaian tangan mereka, juga segenang air di mata mereka, yang seakan mengatakan “aku akan merindukanmu”, saat roda kereta mulai beputar, sedikit menahanku untuk pergi. Namun, aku harus pergi. Aku harus menempuh perjalanan ini. Karena dengan menempuh perjalanan ini, aku justru menjadi sadar bahwa selama ini aku telah banyak membuang waktu dengan sia-sia. Memiliki banyak waktu dengan orang-orang terkasih, namun tidak memanfaatkannya dengan baik. Aku harus menempuh perjalanan ini, perjalanan yang mengingatkanku untuk memanfaatkan setiap waktu yang ada bersama keluarga dan kekasih dengan sebaik mungkin. Selagi masih ada waktu, selagi masih ada kesempatan. Aku tidak mau menyesal kelak.
Anyway, banyak hal baru di dalam kereta yang kualami. Aku memang pernah naik kereta, namun itu pun juga sudah lama sekali, mungkin saat aku masih duduk di bangku SMA. Itu pun hanya sekitar 1 jam, bukan 12 jam seperti yang sedang aku alami ini. Duduk di sebelah Ari, teman seperjalananku, aku melihat banyak orang yang dengan pintarnya melihat peluang mencari sesuap nasi. Ada yang jual beragam jenis nasi, ada yang jual kopi, bahkan ada juga yang menjual jasa penyewaan bantal dan selimut. Sungguh, semua itu adalah sesuatu yang baru bagiku. Semua itu adalah sisi lain dunia yang baru saja kulihat. Ini hanya awal, aku tahu. Akan ada banyak hal baru lainnya nanti setibanya aku di Jakarta.


Entries (RSS)
Haha, oke Pak Vic, Pak Victorio kan? Apa kabar Pak Dosen?
Pak Vic ini pasti jelas merasakannya, karena dia seorang perantau, jauh dari keluarga. Selamat berjuang juga Pak Vic!:)